Minggu, 16 November 2025

Peralatan pelindung diri (APD) yang sesuai dengan OSHA


Peralatan pelindung diri (APD) yang sesuai dengan OSHA adalahperlengkapan yang dikenakan untuk meminimalkan paparan terhadap bahaya di tempat kerja, termasuk barang-barang seperti kacamata keselamatan, helm keselamatan, sarung tangan, dan respiratorPerusahaan diwajibkan menyediakan APD yang diperlukan jika pengendalian teknis dan administratif tidak memungkinkan, dan peralatan ini harus memenuhi standar yang ditetapkan, seperti yang ditetapkan oleh ANSI, agar sesuai. 

Jenis-jenis APD umum yang sesuai dengan OSHA
  • Perlindungan mata dan wajah: Kacamata keselamatan, kacamata pelindung, dan pelindung wajah digunakan untuk melindungi dari serpihan yang beterbangan, cipratan bahan kimia, dan bahaya lainnya.
  • Pelindung kepala: Helm melindungi kepala dari benturan dan benda jatuh.
  • Perlindungan pendengaran: Penyumbat telinga dan penutup telinga digunakan untuk melindungi dari kehilangan pendengaran akibat kebisingan.
  • Perlindungan tangan dan lengan: Sarung tangan yang terbuat dari bahan seperti kulit, kain tahan bahan kimia, atau bahan lain yang sesuai melindungi dari luka gores, luka bakar, dan paparan bahan kimia.
  • Pelindung kaki: Sepatu keselamatan dengan ujung antibenturan, sol antitusukan, dan fitur khusus lainnya melindungi kaki dari benda jatuh dan tusukan.
  • Perlindungan pernapasan: Respirator, termasuk yang disetujui oleh Institut Nasional untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja (NIOSH), diperlukan untuk menyaring partikel berbahaya di udara dan harus digunakan dalam kerangka program perlindungan pernapasan yang komprehensif.
  • Pelindung tubuh: Ini mencakup barang-barang seperti baju terusan, rompi, dan pakaian pelindung seluruh tubuh, tergantung pada bahaya spesifik yang terlibat. 
Persyaratan utama OSHA
• Pengusaha harus menyediakan, dan dengan beberapa pengecualian, membayar APD yang diperlukan untuk mematuhi standar OSHA.
• APD harus digunakan ketika pengendalian lain tidak memadai untuk melindungi pekerja dari bahaya yang dapat menyebabkan cedera atau penyakit.
• Peralatan harus memenuhi atau setara dengan standar konsensus yang ditetapkan, seperti standar dari American National Standards Institute (ANSI).
• Pengusaha harus memastikan APD dikenakan dengan benar pada pekerja.
• Persetujuan NIOSH diperlukan untuk semua respirator yang digunakan di tempat kerja. 

Senin, 03 November 2025

STANDART ISO 22328-1:2020

Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah aspek penting dalam setiap lingkungan kerja, yang bertujuan untuk melindungi pekerja dari berbagai risiko dan bahaya yang dapat mengancam keselamatan serta kesehatan mereka. Dalam konteks ini, salah satu isu krusial yang harus diatasi adalah mitigasi bencana di tempat kerja. Memelihara dan menerapkan sistem manajemen terpadu yang berfokus pada Standar ISO/TC 292/SC 1, Berdasarkan Standar ISO 22328-1:2020 yang relevan dengan peraturan "UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24  TAHUN  2007 TENTANG PENANGGULANGAN BENCANA". Bekerja di area yang menantang, dan telah bekerja dengan memberikan panduan untuk penerapan sistem peringatan dini bencana (EWS) berbasis masyarakat. Dokumen ini menjelaskan metode dan prosedur yang harus diterapkan serta memberikan arahan untuk masyarakat yang rentan terhadap bencana, tanpa mempertimbangkan efek sekunder/tidak langsung. Seorang pemimpin kolaboratif mahir dalam membimbing dan membimbing berbagai tim dan memiliki kemampuan kepemimpinan alami, termasuk keterampilan komunikasi dan interpersonal yang sangat baik. Kemampuan untuk belajar dengan cepat dan menghasilkan tingkat loyalitas yang luar biasa.

Senin, 27 Oktober 2025

Apa Fungsi Penilaian Risiko Kebakaran?

Apa Fungsi Penilaian Risiko Kebakaran?
Di dunia saat ini, penilaian risiko kebakaran merupakan cara untuk memastikan keselamatan suatu bangunan dan penghuninya terhadap risiko kebakaran, serta kepatuhan terhadap undang-undang pemerintah yang mengharuskan pemilik properti atau manajer bisnis untuk memastikan keselamatan kebakaran.
Namun, apa sebenarnya fungsi penilaian risiko kebakaran, siapa yang melakukannya, dan mengapa penilaian risiko kebakaran sangat penting? Mari kita cari tahu.

Apa Peran Penilaian Risiko Kebakaran?
Penilaian risiko kebakaran membantu pemilik properti dan manajer bisnis menjaga keselamatan kebakaran, karena mencakup berbagai aspek utama. Salah satu keuntungan paling signifikan adalah kemampuan untuk mengidentifikasi risiko.
Masyarakat awam mungkin tidak langsung menyadari kabel listrik yang tidak terawat atau perangkat keselamatan yang tidak memadai. Namun, penilaian risiko kebakaran yang menyeluruh memerlukan inspeksi terperinci terhadap bangunan, yang memungkinkan penilai mengidentifikasi kemungkinan sumber kebakaran, dan memberikan rekomendasi yang tepat tentang cara mengelola risiko tersebut.

Manfaat utama lainnya dari penilaian risiko kebakaran adalah alokasi sumber daya yang tepat. Bahaya kebakaran hadir dalam berbagai bentuk dan ukuran, dan menangani semuanya sekaligus dapat terbukti sangat mahal.
Evaluasi risiko kebakaran membantu pihak yang bertanggung jawab memastikan bahwa sumber daya dialokasikan ke area yang paling penting terlebih dahulu. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan keselamatan, tetapi juga memanfaatkan dana yang tersedia secara optimal.
Penilaian risiko kebakaran juga membantu menghemat biaya perbaikan dan renovasi yang mahal. Kebakaran, jika dibiarkan, dapat meluas dan menyebabkan kerusakan besar, bahkan menghanguskan semua yang dilaluinya.
Perbaikan kerusakan tidak hanya mahal, tetapi juga mengganggu bisnis dan mengakibatkan kerugian finansial. Pemilik properti yang mengidentifikasi dan memitigasi risiko sejak dini dapat menghindari pengeluaran selangit akibat kerusakan akibat kebakaran di kemudian hari.
Lalu, ada pula masalah kepatuhan hukum. Melalui Peraturan Keselamatan Kebakaran 2005, pemerintah Inggris telah menghapus unsur "opsional" dari keselamatan kebakaran, dan mewajibkan setiap pemilik bangunan atau pengelola bisnis untuk melakukan penilaian risiko kebakaran di tempat yang menjadi tanggung jawab mereka.
Pemeriksaan keselamatan kebakaran secara berkala diwajibkan oleh hukum, dan kegagalan untuk mematuhinya dapat mengakibatkan denda yang signifikan, penutupan bisnis, dan bahkan (terkejut) hukuman penjara.
Pemilik properti dan manajer bisnis yang mematuhi peraturan ini dan melakukan penilaian risiko kebakaran secara berkala dapat terhindar dari sanksi hukum sekaligus menunjukkan dedikasi mereka terhadap keselamatan setiap orang yang tinggal atau bekerja di gedung tersebut.
Tetapi tidak ada yang mengalahkan manfaat terpenting, dan jelas, dari penilaian risiko kebakaran: menyelamatkan nyawa manusia.
Tujuan utama inspeksi di setiap lokasi adalah untuk menjaga kesehatan dan keselamatan orang-orang yang tinggal atau bekerja di sana. Jika terjadi kebakaran, orang-orang yang siap menghadapi skenario tersebut akan memahami cara melindungi diri sendiri dan orang lain, sehingga meningkatkan peluang mereka untuk bertahan hidup dari ancaman tersebut.

Proses Penilaian Risiko Kebakaran
Penilaian risiko kebakaran memeriksa bangunan dari setiap aspek, kami ulangi SETIAP, untuk menemukan potensi risiko kebakaran. Seperti yang mungkin sudah Anda duga, ini adalah prosedur yang sangat luas dan komprehensif yang membutuhkan perhatian cermat terhadap detail untuk memastikan keamanan dan kesiapan bangunan. Mari kita bahas tahapan-tahapan penilaian risiko kebakaran untuk melihat apa saja yang termasuk di dalamnya:
Mengidentifikasi Bahaya Kebakaran
Pertama, para penilai mengamati sekeliling untuk menemukan potensi bahaya kebakaran. Tahap penilaian risiko kebakaran ini mengidentifikasi kemungkinan sumber kebakaran dan mengenali berbagai jenis kebakaran yang mungkin terjadi. Bahaya kebakaran diklasifikasikan ke dalam berbagai klasifikasi berdasarkan bahan yang digunakan dan jenis kebakaran.
Bahaya Kelas A adalah bahan mudah terbakar yang umum, termasuk kayu, kertas, dan kain. Bahan-bahan ini umum ditemukan di tempat-tempat seperti bengkel pertukangan, pabrik tekstil, toko, dan kantor. Dalam kondisi ini, percikan api atau sumber panas dapat dengan cepat menyulut benda-benda yang mudah terbakar, sehingga mengakibatkan kebakaran.
Bahaya Kelas B mencakup cairan dan gas yang mudah terbakar, termasuk minyak, bensin, dan propana. Risiko ini sering terlihat di restoran, pabrik pengolahan makanan, dan tempat perbaikan kendaraan. Keberadaan senyawa-senyawa ini meningkatkan risiko kebakaran, dan memerlukan tindakan pencegahan keselamatan yang ketat untuk mencegah kebakaran secara tidak sengaja.
Bahaya Kelas C mencakup perangkat listrik seperti komputer dan peralatan rumah tangga. Bahaya ini umum terjadi di pabrik, gudang, bengkel listrik, dan kantor. Kebakaran listrik dapat disebabkan oleh kabel yang rusak, sirkuit yang kelebihan beban, atau peralatan yang tidak berfungsi dengan baik, sehingga semua sistem kelistrikan harus diperiksa dan dirawat secara berkala.
Bahaya Kelas D adalah logam yang mudah terbakar seperti magnesium, natrium, dan kalium. Logam-logam ini dapat ditemukan di laboratorium penelitian, pabrik manufaktur, gudang, serta fasilitas pengolahan dan pembuangan limbah. Air atau alat pemadam api konvensional dapat memperburuk kebakaran logam yang mudah terbakar, sehingga memerlukan penggunaan bahan kimia pemadam khusus.
Bahaya Kelas K meliputi minyak goreng, penumpukan lemak, dan peralatan masak yang tidak diawasi. Bahaya ini umum terjadi di restoran, kedai kopi, dan kios makanan. Kebakaran dapur dapat menyebar dengan cepat jika tidak segera ditangani, yang menekankan pentingnya langkah-langkah keamanan dapur dan pemeliharaan peralatan yang memadai.
Karena semua bahaya kebakaran ini unik satu sama lain, solusi seragam tidak akan berhasil, dan akan memerlukan prosedur keselamatan kebakaran khusus di setiap lokasi.
Mengidentifikasi risiko kebakaran ini memungkinkan pelaksanaan strategi khusus untuk menangani setiap bahaya secara individual, dan mengurangi risiko kebakaran keseluruhan dalam prosesnya.

Mengidentifikasi Orang yang Berisiko
Tujuan utama penilaian risiko kebakaran adalah untuk menyelamatkan nyawa manusia. Hal ini dimulai dengan mengidentifikasi orang-orang yang berisiko selama kebakaran. Tahap ini bertujuan untuk mempertimbangkan setiap individu yang mungkin terdampak kebakaran, dan memungkinkan penerapan tindakan pencegahan keselamatan yang sesuai.
Pentingnya mengidentifikasi orang-orang yang berisiko sangat penting. Untuk pertama kalinya, identifikasi ini mengidentifikasi orang-orang yang paling berisiko saat terjadi kebakaran. Ini termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia yang mudah panik saat terjadi keadaan darurat, serta penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan orang lain jika terjadi keadaan darurat.
Sebuah rencana kemudian dapat disusun di mana beberapa orang di lokasi dapat ditugaskan untuk memastikan bahwa jika terjadi keadaan darurat kebakaran, personel yang sangat rentan akan dirawat, dan diarahkan menuju keselamatan.
Hal ini juga akan membantu menentukan jenis alat pelindung diri yang dibutuhkan untuk keselamatan orang-orang ini. Tergantung pada sifat tempat dan risiko yang dinilai, ini mungkin mencakup peralatan seperti pakaian tahan api, helm, sarung tangan, dan alat bantu pernapasan.
Penilai risiko kebakaran akan mengevaluasi individu yang rentan, seperti mereka yang menggunakan kursi roda dan tidak akan mampu bergerak sendiri dalam situasi darurat. Pelatihan keselamatan kebakaran khusus akan disarankan untuk mengedukasi orang-orang yang berisiko tentang cara terbaik merespons keadaan darurat kebakaran, serta orang-orang di dalam gedung yang harus bertanggung jawab membimbing orang-orang yang rentan ke tempat yang aman dalam keadaan darurat kebakaran.
Pelatihan ini harus mencakup berbagai skenario, termasuk penggunaan alat pemadam kebakaran yang aman, protokol evakuasi, dan kebutuhan untuk menjaga rute pelarian yang jelas dan dapat diakses.
Latihan kebakaran dan pelatihan tanggap darurat yang rutin dapat meningkatkan tingkat kesiapsiagaan setiap orang yang tinggal atau bekerja di gedung secara drastis, memastikan mereka memahami cara bereaksi dengan cepat dan efisien jika terjadi kebakaran.

Mengevaluasi Langkah-Langkah Keamanan yang Ada
Keselamatan kebakaran bukanlah fenomena modern, dan kemungkinan besar, sebagian besar bangunan sudah memiliki beberapa langkah keselamatan. Penilai risiko kebakaran akan mengevaluasi langkah-langkah tersebut terlebih dahulu, termasuk meninjau praktik dan infrastruktur keselamatan kebakaran yang ada, untuk menentukan apakah langkah-langkah tersebut efektif dan sesuai dengan peraturan, serta apakah perlu ditingkatkan atau tidak.
Hal ini mencakup pemantauan efektivitas rencana evakuasi, yang harus dirumuskan dengan baik dan diperbarui secara berkala. Rencana evakuasi harus mudah dipahami dan dapat diakses oleh semua personel, dilengkapi rambu-rambu yang jelas dan penerangan yang memadai untuk mengarahkan orang ke pintu keluar saat keadaan darurat.
Selanjutnya, alat pemadam kebakaran dan peralatan pengendalian kebakaran lainnya harus diuji. Alat pemadam kebakaran harus ditempatkan secara strategis, mudah diakses, dan diuji secara rutin untuk memastikannya berfungsi dengan baik.
Keselamatan kebakaran modern sangat menekankan penggunaan sprinkler air dan sistem deteksi asap untuk menangani kebakaran pada tahap awal, sebelum kebakaran menjadi tak terkendali. Perangkat ini harus berfungsi dan dirawat dengan baik agar dapat segera mengidentifikasi dan memadamkan api sebelum menyebar.
Pertimbangan penting lainnya adalah efisiensi material tahan api yang digunakan di interior bangunan. Material-material ini harus diverifikasi kesesuaiannya dengan peraturan keselamatan dan dievaluasi untuk memastikan efektivitasnya dalam mencegah penyebaran api.
Aksesibilitas bagi petugas pemadam kebakaran juga merupakan pertimbangan penting. Memastikan jalur kebakaran dan titik akses bersih dan mudah diakses oleh layanan darurat sangat penting dalam menjamin kedatangan petugas pemadam kebakaran yang cepat dan pemadaman api yang cepat.
Terakhir, frekuensi dan efisiensi latihan kebakaran perlu dievaluasi. Latihan kebakaran rutin penting untuk mempersiapkan masyarakat menghadapi bahaya kebakaran, dan memastikan semua orang memahami tanggung jawab mereka dalam keadaan darurat.
Pelatihan yang memadai bagi petugas dan staf keselamatan di gedung komersial juga harus dievaluasi untuk memastikan bahwa semua personel memiliki informasi dan kemampuan yang diperlukan untuk menangani situasi kebakaran dengan sukses.

Menilai Risiko Kebakaran
Penilaian bahaya kebakaran tidak hanya mencakup penentuan probabilitas terjadinya kebakaran, tetapi juga potensi kerugian yang ditimbulkannya. Beberapa faktor dipertimbangkan selama evaluasi untuk mendapatkan ukuran risiko kebakaran yang tepat.
Salah satu variabel terpenting adalah sumber penyulutan, yaitu segala sesuatu yang dapat memicu kebakaran. Ini bisa mencakup segala hal mulai dari kabel yang rusak hingga api terbuka atau permukaan yang panas.
Pertimbangan penting lainnya adalah pasokan bahan bakar, yang mengacu pada benda-benda yang dapat memicu kebakaran begitu terjadi. Dalam beberapa situasi, ini dapat mencakup cairan yang mudah terbakar, bahan yang mudah terbakar, atau bahkan debu.
Aspek ketiga adalah ketersediaan oksigen, yang dibutuhkan agar api dapat terus menyala. Penilai harus mengevaluasi bagaimana oksigen mungkin tersedia atau terbatas di berbagai area fasilitas. Ruangan berventilasi baik dapat lebih mudah terbakar, tetapi lingkungan dengan aliran udara terbatas dapat membatasi penyebaran api, sekaligus menimbulkan masalah tersendiri.
Memahami berbagai penyebab terjadinya api sangatlah penting, karena api dapat menyala tanpa disengaja, seperti ketika api kecil tidak padam sepenuhnya atau ketika peralatan (seperti pemanas listrik, kompor, atau pemanggang roti) tidak berfungsi dengan baik.
Oleh karena itu, tindakan kelalaian, di mana kelalaian atau kegagalan memelihara peralatan dengan benar menyebabkan kebakaran, juga harus dipertimbangkan.
Selain itu, perlu diingat bahwa tidak semua kebakaran terjadi secara tidak sengaja, dan dapat terjadi dengan sengaja untuk menimbulkan kerugian. Kegiatan yang disengaja ini, seperti pembakaran, menimbulkan risiko yang substansial dan memerlukan tindakan pencegahan khusus.

Mendokumentasikan Temuan
Mendokumentasikan temuan penilaian risiko kebakaran membantu menjadikannya resmi, dan bertindak sebagai referensi pendidikan kapan pun panduan diperlukan.
Prosedur ini meliputi penyimpanan catatan lengkap mengenai bahaya yang teridentifikasi, penilaian efisiensi tindakan keselamatan saat ini, dan penerapan penyesuaian yang diperlukan untuk meningkatkan keselamatan kebakaran secara keseluruhan.
Dokumentasi yang tepat memiliki banyak tujuan penting. Dokumentasi memberikan catatan yang jelas tentang temuan penilaian risiko kebakaran, memungkinkan penanggung jawab untuk memantau kemajuan langkah-langkah keselamatan kebakaran, membuat keputusan yang tepat, dan menunjukkan kepatuhan hukum.

Siapa yang Harus Melakukan Penilaian Risiko Kebakaran?
Individu atau lembaga yang dianggap 'kompeten' berdasarkan norma hukum dan peraturan harus ditugaskan untuk melakukan penilaian risiko kebakaran.
Istilah 'orang yang kompeten' sering merujuk pada orang yang memiliki pemahaman menyeluruh tentang keselamatan kebakaran, aturan yang berlaku, dan pengalaman langsung dalam menilai dan mengelola bahaya kebakaran. Tidak ada definisi 'kompeten' yang diterima secara umum, meskipun sering merujuk pada orang yang memiliki pengetahuan dan kualifikasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan penilaian secara efisien.
Usaha kecil dan menengah (UKM) seringkali memiliki pilihan untuk merekrut ahli keselamatan kebakaran eksternal. Banyak UKM yang merekrut ahli keselamatan kebakaran dari dinas pemadam kebakaran atau layanan kesehatan dan keselamatan setempat.
Para spesialis ini memberikan pengetahuan spesifik dan selalu mengikuti perkembangan aturan serta praktik terbaik terkini. Mereka memberikan penilaian yang tidak memihak serta rekomendasi praktis berdasarkan kebutuhan spesifik bisnis.
Menggunakan keahlian eksternal mungkin sangat menguntungkan bagi UKM yang tidak memiliki sumber daya atau memerlukan tim keselamatan kebakaran internal yang terspesialisasi.
Di sisi lain, perusahaan yang lebih besar biasanya memiliki sumber daya yang lebih besar dan dapat membentuk tim keselamatan kebakaran internal mereka sendiri. Tim-tim ini biasanya terdiri dari para profesional berkualifikasi yang melakukan penilaian risiko kebakaran sebagai bagian dari rencana manajemen keselamatan yang lebih luas.
Perusahaan besar dapat berinvestasi dalam pembentukan tim khusus yang terdiri dari petugas keselamatan, manajer risiko, dan spesialis kepatuhan. Teknik ini memungkinkan manajemen keselamatan kebakaran yang berkelanjutan dan komprehensif serta pengembangan langkah-langkah pencegahan kebakaran yang berkelanjutan.
Pelatihan dan sertifikasi diperlukan untuk semua bisnis, terlepas dari skalanya. Individu yang melakukan penilaian risiko kebakaran harus menjalani pelatihan ekstensif dan mendapatkan sertifikasi yang relevan dari otoritas yang kredibel untuk memastikan mereka memahami peraturan dan prosedur keselamatan kebakaran.
Pelatihan ini membahas sejumlah bidang, termasuk identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan penerapan langkah-langkah keselamatan yang efektif. Sertifikasi dari lembaga yang diakui menunjukkan kemampuan dan dedikasi mereka dalam menegakkan standar keselamatan yang tinggi.
Dokumentasi harus mencakup informasi mengenai peralatan yang tidak berfungsi, kebutuhan pelatihan yang teridentifikasi, dan revisi yang diperlukan terhadap proses yang ada. Peralatan yang tidak berfungsi, seperti sistem alarm yang rusak atau alat pemadam kebakaran yang cacat, harus dilaporkan agar perbaikan atau penggantian dapat direncanakan sesegera mungkin.
Menunjukkan perlunya pelatihan sangatlah penting; jika evaluasi menemukan bahwa personel di dalam gedung memerlukan pelatihan keselamatan kebakaran tambahan atau bahwa petugas keselamatan perlu meningkatkan keterampilan mereka, persyaratan ini harus dimasukkan dalam dokumentasi, dan ditangani dengan benar.
Terakhir, setiap perubahan atau peningkatan prosedur keselamatan kebakaran, seperti rencana evakuasi baru atau metode pemeliharaan yang diperbarui, harus didokumentasikan untuk memverifikasi bahwa semua tindakan pencegahan keselamatan adalah yang terbaru dan akan terbukti membuahkan hasil ketika saatnya tiba. 

Kesimpulan
Penilaian risiko keselamatan kebakaran merupakan komponen penting dalam manajemen keselamatan kebakaran karena mengidentifikasi, memeriksa, dan berupaya mengurangi potensi bahaya kebakaran. Strategi proaktif ini tidak hanya membantu memenuhi peraturan pemerintah terkait, tetapi juga melindungi masyarakat dan properti dari kebakaran.

Jumat, 22 November 2024

BASIC SEA SURVIVAL

Memahami Pentingnya Keterampilan Sea Survival

 Basic Survival Sea adalah kemampuan untuk bertahan hidup di perairan lepas saat dalam kondisi darurat. Basic Survival Sea ini menjadi pelatihan dasar yang harus diikuti oleh seluruh orang yang bekerja di lautan lepas sebagai panduan untuk penyelamatan diri jika terjadi kecelakaan kerja.   Secara umum terdapat dua hal dasar yang harus dipahami oleh kita semua terkait Basic Sea Survival, yaitu:    

Potensi Bahaya di Laut Penting bagi kita semua untuk memiliki pemahaman terkait jenis-jenis bahaya yang mungkin terjadi di laut, seperti terbaliknya kapal, tenggelamnya kapal, atau terdamparnya kapal di tengah perairan lepas. Pemahaman akan risiko bahaya ini akan membantu Anda mempersiapkan diri dan merespons situasi darurat dengan lebih baik.  



Memiliki Mental Siap Bertahan Basic Sea Survival menekan pentingnya mental untuk menghadapi potensi keadaan darurat di laut dalam upaya untuk bertahan hidup. Mental siap bertahan ini akan membantu kita untuk tetap tenang, berani dan mampu mengambil keputusan yang tepat dalam situasi darurat sehingga akan menjaga peluang untuk bertahan hidup. 


Mengenali Perlengkapan Sea Survival Setiap kendaraan transportasi dilengkapi dengang peralatan pelindungan diri, termasuk kapal ataupun pesawat terbang yang sering melintasi daerah perairan lepas. Terdapat beberapa perlengkapan Sea Survival yang harus kita ketahui fungsi dan pemakaiannya, seperti:  

Jaket Pelampung merupakan perlengkapan wajib saat berada di laut. Pastikan jaket pelampung Anda dalam kondisi baik dan sesuai dengan standar keselamatan yang berlaku.   

Senter Air atau Senter Darurat merupakan alat yang penting untuk memberikan sinyal keberadaan Anda kepada penyelamat atau kapal lain yang mungkin berada di sekitar Anda.   

Alat Komunikasi merupakan barang wajib yang harus Anda untuk menghubungi pihak berwenang atau orang lain di darat jika terjadi keadaan darurat. Radio VHF atau telepon satelit dapat menjadi pilihan yang baik.   

Medical Kit pertolongan pertama berisikan peralatan dasar seperti perban, plester, obat-obatan, dan instruksi pertolongan pertama.  

Teknik dan Strategi Basic Sea Survival 
Basic Sea Survival tidak hanya perlu diketahui oleh para pekerja, namun juga untuk masyarakat secara umum. Terutama terkait teknik dan strategi dasar dalam Sea Survival, diantaranya;   

Tetap Bersama dengan Kapal Jika kapal yang Anda tumpangi terbalik atau tenggelam, tetaplah bersama dengan kapal dan tetap berkupul dengan penumpang atau ABK (CREW) tersebut. Kapal dapat menjadi tempat perlindungan sementara yang dapat mempertahankan kondisi fisik Anda dan mempermudah proses penyelamatan.  

Mengenakan Jaket Pelampung dengan Benar Pastikan Anda dan semua orang di kapal mengenakan jaket pelampung dengan benar. Periksa kembali pengaturan dan ikatan pada jaket pelampung untuk memastikan keamanan dan kenyamanan.   

Mengetahui Cara Berenang yang Efektif Keterampilan berenang yang baik dapat membantu Anda bertahan di laut. Pelajari teknik berenang dasar dan praktikkan secara teratur untuk meningkatkan keahlian Anda.   

Mencari Tanda-Tanda Penyelamatan Jaga kewaspadaan terhadap tanda-tanda penyelamatan, seperti kapal, helikopter, atau objek apapun yang dapat menjadi tanda keberadaan manusia atau daratan. 

Gunakan alat pemancar darurat yang Anda miliki untuk memberikan sinyal kepada penyelamat.

 Kesimpulan : 

Memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar sea survival sangatlah penting saat berada di laut. Mulai dari persiapan keamanan diri sendiri, pemahaman akan risiko dan bahaya di laut, serta penggunaan perlengkapan dan teknik yang tepat dapat meningkatkan peluang bertahan hidup Anda dalam situasi darurat. Dengan mengikuti panduan keterampilan dan tips dasar sea survival ini, Anda akan lebih siap dan dapat menghadapi situasi darurat di laut dengan lebih baik, menjaga keselamatan Anda dan orang lain yang berada di sekitar Anda.

Kamis, 03 Juli 2014

HSE & TUGASNYA

HSE & TUGASNYA Apa itu HSE?.... HSE (Health, Safety, Environment), atau di beberapa perusahaan juga disebut EHS, HES, SHE, K3LL (Keselamatan & Kesehatan Kerja dan Lindung Lingkungan), dan SSHE (Security, Safety, Health, Environment). Semua itu adalah suatu Departemen atau bagian dari Struktur Organisasi Perusahaan yang mempunyai fungsi pokok terhadap implementasi Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) mulai dari Perencanaan, Pengorganisasian, Penerapan dan Pengawasan serta Pelaporannya. Sementara, di Perusahaan yang mengeksploitasi Sumber Daya Alam ditambah dengan peran terhadap Lingkungan (Lindungan Lingkungan). Membicarakan HSE bukan sekedar mengetengahkan Issue seputar Hak dan Kewajiban, tetapi juga berdasarkan Output, yaitu korelasinya terhadap Produktivitas Karyawan. Belum lagi antisipasi kecelakaan kerja apabila terjadi Kasus karena kesalahan prosedur ataupun kesalahan pekerja itu sendiri (naas). Apa tugas dari petugas HSE?.... Ø Memastikan keselamatan kerja memenuhi persyaratan EHS hokum. Ø Menerapkan dan mempromosikan program EHS. Ø Melakukan inspeksi situs keamanan rutin dan tindak lanjut. Ø Membantu penyelidikan insiden. Ø Melakukan dan menyajikan temuan keselamatan bulanan. Ø Melakukan Diklat keamanan rutin, briefing, dll. Ø Melaksanakan penilaian risiko dan kontrol pada kegiatan situs. pelaksanaan K-3 ditentukan oleh 3 unsur: Ø Adanya Tempat Kerja untuk keperluan suatu usaha. Ø Adanya Tenaga Kerja yang bekerja di sana. Ø Adanya bahaya kerja di tempat itu. HSE induction / orientation itu apa?.... Bagi seorang pekerja baru, secara psikologis biasanya keinginan kerjanya sangat besar sekali. Ia sudah menunggu – nunggu untuk mendapatkan pekerjaan yang ia impikan, selain itu biasanya ia ingin segera menunjukan kemampuannya dan semangatnya agar segera bisa di terima di lingkungan kerja dengan baik. Ini merupakan nilai positif dari seseorang bagi perusahaan, hal ini perlu dikelola agar dapat memberikan kontribusi besar bagi perusahaan maupun tim kerjanya agar kompetisi positif terbangun serta keunggulan perusahaan selalu terjaga. Namun demukian, sebagai seorang HSE tentunya ini perlu diwaspadai. Bagaimana jika ia mengendalikan ppekerjaan yang secara metode ataupun lingkungan kerja memiliki resiko tinggi untuk terjadinya kecelakaan ataupun kebakaran….. bisa dibayangkan kerugian bagi dirinya ataupun perusahaan. Saatnya kita antisipasi hal ini dengan HSE induction / orientasi. Kita kenalkan pekerja tersebut mengenai bahaya yang ada ditempat kerjanya dan pencegahannya. Bagi seorang HSE, ini merupakan tantangan dalam pengendalian resiko terjadinya dampak negative….. hal yang bisa kita lakukan untuk progam HSE induction / orientation. Kenalkan jenis perusahaan anda.  Peraturan umum di perusahaan anda. Beritahukan jenis bahaya yang ada di perushaan anda. Informasikan prosedur kerja yang ada. Permit system Pelaporan keadaan darurat dan kecelakaan. Pelatihan. Metode kerja aman.  Kenalkan Alat proteksi keselamatan yang ada di lokasi kerja. PPE yang dibutuhkan untuk bekerja. Harapan perusahaan mengenai aspek HSE. Metode penyampaian. Indicator keberhasilan penyampaian materi. Nah, jika sudah siap. Kita perlu sosialisasikan kepada semua pihak sehingga jika ada pekerja baru bisa dilaporkan kepada HSE untuk diberi orientasi singkat sebagai bekal untuk bekerja di tempat bekerjanya…. Tips : Lakukan presentasi secara komunikatif dan gunakan empati. Berikan contoh kecelakaan di luar tempat kerja yang ada hubungannya dengan jenis  pekerjaan.Batal Suka ·Komentari ·Dapatkan Pemberitahuan Anda dan 2 lainnya  menyukai ini.

Minggu, 01 Desember 2013

BNPB SELENGGARAKAN SIMULASI SRC PB WILAYAH TIMUR

• 28 November 2013 22:54


Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyelenggarakan simulasi Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRC-PB) Wilayah Timur di Bendung Gerak, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur pada 28 November 2013. Kegiatan ini bertema Gelar dan Simulasi Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRC-PB) Wilayah Timur dan unsur pendukung dalam rangka kesiapan menghadapi bencana banjir di Wilayah Timur tahun 2013. 
Kepala BNPB DR. Syamsul Maarif, M.Si menuturkan sebagai negara dengan kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis yang rawan bencana dengan frekuensi cukup tinggi, Indonesia perlu terus meningkatkan kemampuan dalam penanggulangan bencana. "Penanggulangan bencana memerlukan penanganan yang sistematis, terpadu, dan terkoordinasi," tuturnya dalam sambutan kegiatan tersebut.
SRC-PB Wilayah Timur dan pendukungnya dilatih agar siap diterjunkan kapan saja dalam penanggulangan bencana. Sasaran gladi SRC-PB, yaitu:
  • Meningkatnya kemampuan koordinasi dan kerjasama SRC-PB Wilayah Timur dan pendukung dengan instansi/organisasi perangkat daerah (OPD), kementerian/lembaga (K/L), dunia usaha serta masyarakat dalam menjalankan tugas dan fungsi pada satu kesatuan komando;
  • Meningkatnya kemampuan SRC-PB Wilayah Timur dan pendukung dalam membangun/memperkuat kerjasama tim;
  • Tersedianya personil SRC-PB yang memiliki kompetensi dalam penanggulangan bencana di tingkat nasional dan internasional.
Materi gelar SRC-PB Wilayah Timur ini terdiri dari:
  • Gelar posko yang didukung komunikasi yang kuat dan media center berupa pembukaan saluran komunikasi, gelar peralatan penanggulangan bencana oleh K/L serta lintas sektor terkait;
  • Teknik operasi evakuasi melalui sungai dengan menggunakan perahu karet;
  • Operasi evakuasi melalui udara dengan menggunakan helikopter BASARNAS;
  • Teknik triase penanganan korban bencana baik korban hidup maupun meninggal;
  • Identifikasi korban meninggal oleh DVI POLRI;
  • Penanganan darurat korban bencana oleh Dinas Kesehatan (Dinkes);
  • Manajemen logistik untuk pengungsi.
Peserta kegiatan SRC-PB ini berjumlah 619 orang, berasal dari unsur TNI 191 orang, POLRI 76 orang, OPD 154 orang, Pramuka 50 orang, BNPB/BPBD 35 orang, Basarnas 15 orang, Dinas PU/PDAM empat orang, PMI delapan orang, Dinas Sosial lima orang, Dinas Kesehatan 15 orang, ditambah 90 anggota masyarakat. (Rsp)

Posko SRC-PB Wilayah Timur Ditinjau Presiden



Presiden Susilo Bambang Yudhono melakukan peninjauan kesiapan Pos Komando Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana untuk kawasan timur yang ditempakan di Landasan Udara Abdulrahman Saleh, Malang pada Senin (29/3).
Kepala Biro Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana Priyadi Kardono, yang bertanggung jawab menyiapkan posko statik mengatakan, Presiden SBY dan rombongan antara lain akan meninjau Posko SRC-PB, menyaksikan gelar pasukan SRC dan demonstrasi kesiapan tanggap bencana pasukan SRC wilayah timur.
Gelar pasukan SRC akan diikuti oleh 2.650 orang yang terdiri dari berbagai unsur. Antara lain, TNI, Polri, relawan Tagana, PMI, Basarnas. Sementara untuk demostrasi, digambarkan pasukan SRC melakukan upaya tanggap darurat kejadian gempa di Manokwari. “Pasukan SRC akan mendemonstrasikan cara penyelematanan korban manusia yang tertindih bangunan,” kata Priyadi. Demo ini juga termasuk memperlihatkan kesiapsiagaan SAR udara. “Akan ada pesawat hercules yang melakukan dropping logistik dengan payung, juga demonstrasi evakuasi korban bencana dengan helikopter,” tambahnya.
Sebelum peninjauan, Kepala BNPB Dr.Syamsul Maarif terlebih dulu akan memberi penjelasan kepada Presiden SBY dan rombongan tentang apa yang telah dilakukan BNPN dan program-program ke depan.
Daerah operasi Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRC-PB) wilayah timur meliputi Jatim hingga Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Papua. Menurut Priyadi pembentukan dan penyiapan Posko SRC-PB bertumpu pada kekuatan sumberdaya dalam negeri. Personil SRC-PB diturunkan pada bencana bersifat ekstrem, yang tak dapat ditanggulangi pemda setempat. Satuan ini bergerak ke lapangan dalam hitungan jam.
Pembentukan SRC-PB merupakan implementasi Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana, salah satu dari 15 prioritas kerja 100 hari Kabinet Bersatu Jilid II. Tujuannya, yaitu membantu pemerintah daerah bertindak cepat tanggap darurat di daerah bencana, berupa bantuan teknis, peralatan, dan dukungan logistik.
Posko SRC-PB wilayah barat ditempatkan di Lanud Halim Perdanakusumah. Daerah operasi Posko SRC-PB wilayah barat meliputi Sumatera, Kalimantan, Jabar, dan Jateng. Pada Januari lalu, Presiden SBY telah meninjau kesiapan Posko SRC wilayah barat



 http://www.technology-indonesia.com/images/stories/sby/sby%20src3.jpg