Minggu, 01 Desember 2013

BNPB SELENGGARAKAN SIMULASI SRC PB WILAYAH TIMUR

• 28 November 2013 22:54


Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyelenggarakan simulasi Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRC-PB) Wilayah Timur di Bendung Gerak, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur pada 28 November 2013. Kegiatan ini bertema Gelar dan Simulasi Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRC-PB) Wilayah Timur dan unsur pendukung dalam rangka kesiapan menghadapi bencana banjir di Wilayah Timur tahun 2013. 
Kepala BNPB DR. Syamsul Maarif, M.Si menuturkan sebagai negara dengan kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis yang rawan bencana dengan frekuensi cukup tinggi, Indonesia perlu terus meningkatkan kemampuan dalam penanggulangan bencana. "Penanggulangan bencana memerlukan penanganan yang sistematis, terpadu, dan terkoordinasi," tuturnya dalam sambutan kegiatan tersebut.
SRC-PB Wilayah Timur dan pendukungnya dilatih agar siap diterjunkan kapan saja dalam penanggulangan bencana. Sasaran gladi SRC-PB, yaitu:
  • Meningkatnya kemampuan koordinasi dan kerjasama SRC-PB Wilayah Timur dan pendukung dengan instansi/organisasi perangkat daerah (OPD), kementerian/lembaga (K/L), dunia usaha serta masyarakat dalam menjalankan tugas dan fungsi pada satu kesatuan komando;
  • Meningkatnya kemampuan SRC-PB Wilayah Timur dan pendukung dalam membangun/memperkuat kerjasama tim;
  • Tersedianya personil SRC-PB yang memiliki kompetensi dalam penanggulangan bencana di tingkat nasional dan internasional.
Materi gelar SRC-PB Wilayah Timur ini terdiri dari:
  • Gelar posko yang didukung komunikasi yang kuat dan media center berupa pembukaan saluran komunikasi, gelar peralatan penanggulangan bencana oleh K/L serta lintas sektor terkait;
  • Teknik operasi evakuasi melalui sungai dengan menggunakan perahu karet;
  • Operasi evakuasi melalui udara dengan menggunakan helikopter BASARNAS;
  • Teknik triase penanganan korban bencana baik korban hidup maupun meninggal;
  • Identifikasi korban meninggal oleh DVI POLRI;
  • Penanganan darurat korban bencana oleh Dinas Kesehatan (Dinkes);
  • Manajemen logistik untuk pengungsi.
Peserta kegiatan SRC-PB ini berjumlah 619 orang, berasal dari unsur TNI 191 orang, POLRI 76 orang, OPD 154 orang, Pramuka 50 orang, BNPB/BPBD 35 orang, Basarnas 15 orang, Dinas PU/PDAM empat orang, PMI delapan orang, Dinas Sosial lima orang, Dinas Kesehatan 15 orang, ditambah 90 anggota masyarakat. (Rsp)

Posko SRC-PB Wilayah Timur Ditinjau Presiden



Presiden Susilo Bambang Yudhono melakukan peninjauan kesiapan Pos Komando Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana untuk kawasan timur yang ditempakan di Landasan Udara Abdulrahman Saleh, Malang pada Senin (29/3).
Kepala Biro Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana Priyadi Kardono, yang bertanggung jawab menyiapkan posko statik mengatakan, Presiden SBY dan rombongan antara lain akan meninjau Posko SRC-PB, menyaksikan gelar pasukan SRC dan demonstrasi kesiapan tanggap bencana pasukan SRC wilayah timur.
Gelar pasukan SRC akan diikuti oleh 2.650 orang yang terdiri dari berbagai unsur. Antara lain, TNI, Polri, relawan Tagana, PMI, Basarnas. Sementara untuk demostrasi, digambarkan pasukan SRC melakukan upaya tanggap darurat kejadian gempa di Manokwari. “Pasukan SRC akan mendemonstrasikan cara penyelematanan korban manusia yang tertindih bangunan,” kata Priyadi. Demo ini juga termasuk memperlihatkan kesiapsiagaan SAR udara. “Akan ada pesawat hercules yang melakukan dropping logistik dengan payung, juga demonstrasi evakuasi korban bencana dengan helikopter,” tambahnya.
Sebelum peninjauan, Kepala BNPB Dr.Syamsul Maarif terlebih dulu akan memberi penjelasan kepada Presiden SBY dan rombongan tentang apa yang telah dilakukan BNPN dan program-program ke depan.
Daerah operasi Satuan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (SRC-PB) wilayah timur meliputi Jatim hingga Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Papua. Menurut Priyadi pembentukan dan penyiapan Posko SRC-PB bertumpu pada kekuatan sumberdaya dalam negeri. Personil SRC-PB diturunkan pada bencana bersifat ekstrem, yang tak dapat ditanggulangi pemda setempat. Satuan ini bergerak ke lapangan dalam hitungan jam.
Pembentukan SRC-PB merupakan implementasi Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana, salah satu dari 15 prioritas kerja 100 hari Kabinet Bersatu Jilid II. Tujuannya, yaitu membantu pemerintah daerah bertindak cepat tanggap darurat di daerah bencana, berupa bantuan teknis, peralatan, dan dukungan logistik.
Posko SRC-PB wilayah barat ditempatkan di Lanud Halim Perdanakusumah. Daerah operasi Posko SRC-PB wilayah barat meliputi Sumatera, Kalimantan, Jabar, dan Jateng. Pada Januari lalu, Presiden SBY telah meninjau kesiapan Posko SRC wilayah barat



 http://www.technology-indonesia.com/images/stories/sby/sby%20src3.jpg

Minggu, 24 November 2013

Desa Tangguh, Andalan Kurangi Risiko Bencana

Desa Tangguh, Andalan Kurangi Risiko Bencana
Indonesia adalah laboratorium bencana karena Indonesia termasuk salah satu negara paling rawan bencana di dunia. Oleh sebab itu di butuhkan adanya pengembangan sistem kearifan lokal yang diterapkan di masyarakat sehingga di harapkan mampu mengurangi resiko bencana.
Indonesia punya program lokal unggulan dalam menjaga kearifan lokal yakni melalui desa tangguh. Hal tersebut dikemukakan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana DR. Syamsul Maarif, M.Si dalam acara International Seminar on Disaster Management: Preparedness, Emergency and Reconstruction, di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, 16/6. DR. Syamsul mengatakan desa tangguh mengandalkan kearifan lokal untuk mengurangi resiko bencana , karena Indonesia di kategorikan sebagai advance dalam menanggulangi resiko bencana. Desa tangguh adalah desa atau kelurahan yang memiliki kemampuan mandiri, mampu beradaptasi dalam menghadapi potensi ancaman bencana , serta segera memulihkan diri pasca bencana. kearifan lokal lewat desa tangguh diharapkan mampu membuat percepatan informasi serta tindak darurat yang lebih fleksibel yang dilakukan dalam komunitas masyarakat. Mengadaptasi itu BNPB menyertakan partisipasi para relawan swadaya masyarakat. Sekitar 10 ribu relawan dengan variasi kemampuan di bidang logistik , evakuasi hingga trauma disebar keseluruh wilayah rawan bencana. Pemerintah juga mulai membentuk desa tangguh, sebut saja masyarakat Desa Wonolelo, kec. Pleret, Kab Bantul, DIY. Dengan bantuan dana sebesar Rp. 80 juta dan pendampingan, masyarakat setempat mampu membangun cekdam (bendungan kecil) sehinggga mampu mengatasi banjir dan kekeringan yang sering terjadi di wilayah tersebut. “ Selama ini Indonesia hanya sibuk mengelola sistem penanggulangan bencana, padahal kalau di luar negeri manajemen pasca bencana dikelola dengan optimal, di Indonesia fase rekonstruksi dan rehabilitasi korban bencana kurang mendapatkan perhatian, tidak banyak yang memperhatikan bagaimana nasib psikis para korban yang trauma pasca bencana,” Jelasnya. Tujuan kegiatan pelatihan tersebut adalah untuk meningkatkan kualitas pengetahuan dan pemahaman civitas akademika tentang bagaimana mengelola managemen disaster dengan baik. Dan melalui seminar tersebut, para peserta pelatihan dapat menyesuaiakan pemahaman teori yang di dapat selama pelatihan dengan kebutuhan real di lapangan meliputi kesiapan menghadapai sebelum dan sesudah bencana terjadi yang telah di paparkan oleh sejumlah nara sumber kompeten dan berpengalaman dibidang bencana. Siaga Bencana Masuk Kurikulum Sekolah Bahkan, tidak menutup kemungkinan pengenalan menghadapi bencana bisa diperkenalkan sejak dini kepada anak-anak sekolah yang tinggal di wilayah rawan bencana. DR. Syamsul menjelaskan modul pengenalan antisipasi bencana dapat dimasukkan kedalam modul pembelajaran di sekolah. Disana guru dapat mengenalkan kepada siswa langkah apa saja yang harus dilakukan untuk menyelamatkan diri dari bencana.
Sayangnya, sejumlah daerah dan jajaran pemerintah belum memiliki kesiagaan dan kesigapan dalam mengatasi bencana alam. Selain keterbatasan anggaran BPBD yang hanya dianggarkan kurang dari 1 persen dari anggaran APBD, keterbatasan SDM, keterbatasan logistik dan peralatan , adanya politik ‘lokal serta luasnya cakupan wilayah rawan bencana namun akses terbatas. “Yang jadi hambatan lain adalah banyak masyarakat yang masih tinggal di wilayah rawan bencana , kemiskinan, keterbatasan pengetahuan ,dan minimnya sistem peringatan dini. Untuk menyelenggarakan PB dengan baik maka anggaran BNPB meningkat lebih dari 1000 persen dalam 5 tahun terakhir,” ujarnya. Oleh karena itu, perlu ditingkatkan kapasitas program pra bencana yakni dengan meningkatkan sosialisasi penanggualangan resiko bencana, penguatan kapasitas , latihan dan sertifikasi sebanyak 20.272 relawan di Indonesia, hingga memfasilitasi platform penanggulangan resiko bencana di tingkat daerah dan nasional. “Pada prinsipnya, bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, sebut saja gempa, bukan gempanya yang harus di takutkan, melainkan bagaimana cara meningkatkan kualitas bangunan, seperti membangun rumah tahan gempa, memperbaiki tanggul, dan aliran sungai sehingga ketika banjir atau gempa itu kembali terjadi, tidak sampai berdampak buruk bagi keselamatan jiwa masyarakat setempat,” jelasnya. Laporan CRED 2009 menyebutkan peningkatan kejadian bencana alam selama tiga dasawarsa terakhir mencapai hampir 350 persen, hal ini menjadi tantangan bencana global. Menurutnya, bencana akan semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk, urbanisasi, degradasi lingkungan, kemiskinan, dan pengaruh perubahan iklim global. Data BNPB menyebutkan sebanyak 76 persen peningkatan bencana didominasi oleh bencana hidrometerorologi seperti banjir, longsor, siklon tropis, dan kekeringan. Kondisi tersebut berdampak luas bagi negara miskin dan sedang berkembang. Jumlah kejadian bencana di Jawa Timur Per Kabupaten meningkat sejak 1815-2010. Sekitar 87 persen bencana adalah bencana hidrometerologi seperti banjir , longsor, puting beliung, dan kekeringan. Kejadian bencana banyak terjadi di Tuban, Bojonegoro, Malang, trenggalek, Kediri, dan Pasuruan.
"Puting Beliung" Dalam peta sebaran jumlah korban jiwa meninggal akibat bencana di Provinsi Jawa Timur dijelaskan, pada 1815-2010, walaupun dari jumlah kejadian bencana terbanyak terjadi di Bojonegoro dan Malang namun jumlah korban meninggal akibat bencana bencana geologi seperti letusan gunung merapi, gempa bumi dan tsunami, terbanyak terjadi di Kediri (5.180 orang), Lumajang (2.054 orang), Trenggalek (575 orang), Jember (407 orang), Kota Kediri (244 orang). “Selain meningkatkan upaya pencegahan dan mitigasi, kesiapsiagaan tetap harus diupayakan hingga pasca bencana yakni fokus pada upaya pemulihan dan rekonstruksi, fase ini yang harus diperkuat.

Sabtu, 23 November 2013

Sudah Siapkah Kita Menghadapi Bencana?

sudah siapkah kita menghadapi bencana???
Kesiapsiagaan menghadapi bencana adalah kalimat kunci yang harus dipahami oleh semua orang di Negara kita. Memahami sepenuhnya bahwa letak geografis wilayah kita berada pada jalur yang rawan terjadinya bencana. Sehingga, Pemerintah kita perlu menyusus sebuah strategi menghadapi bencana. Mempersiapkan masyarakat Indonesia mampu hidup berdampingan dengan bencana. Hal ini memang tidak semudah membalikkan telapak tangan dan butuh waktu yang lama. Pemerintah Indonesia perlu meningkatkan lagi program Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang telah digalakkan selama ini. Keseriusan para pengambil kebijakan adalah hal yang mutlak dalam mempersiapkan masyarakat Indonesia yang siap hadapi bencana apapun yang datang tiba-tiba. Para pelajar harus diberi porsi mempelajari program tersebut. Pelajar yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) sekalipun harus diajarkan dasar-dasar menghadapi bencana yang akan bakal terjadi. Disini, semua Sekolah Dasar yang ada di Indonesia harus dijadikan Sekola Siaga Bencana (SSB)
. Setidaknya bagi wilayah yang termasuk rawan bencana seperti Aceh, Yogyakarta, Jakarta, Bengkulu, dan beberapa wilayah lainnya di negera kita lebih diprioritaskan untuk dijalankan Program Pengurangan Risiko Bencana (PRB) tersebut. Kesadaran masyarakat akan resiko bencana akan meningkat dengan sendirinya bila Pemerintah sendir terlebih dahulu sadar akan bahaya tersebut. Pemerintah harus punya kemauan politik yang kuat, tepat, dan tulus dalam mempersiapkan masyarakat Indonesia akrab dengan bencana. Kucuran dana yang memadai saja tidak akan cukup bagi program ini. Bahkan, Pemerintah kita masih menganggap masalah persiapan menghadapi bencana adalah bagian terkecil dari program membangun negara itu sendiri. Pemerintah harus serius akan masalah ini. Pembangunan apapun yang akan dijalankan harus mengikutkan program PRB. Disinilah peran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat meningkatkan koordinasinya dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Pemerintah yang baik pasti berkeinginan kuat mendidik rakyatnya mengerti akan resiko besar bila bencana datang tiba-tiba.
Akhirnya kita semua mengharapkan demikian. Kita berharap pada Pemerintah kita lewat para pemimpin yang telah kita percaya menjadi imam bagi bangsa kita tercinta. Semoga kita siap, ya?

Senin, 18 November 2013

Goa Suci Peninggalan Majapahit yang Merana

http://google.com/+ahcmadaffandiavans/goa-suci-peninggalan-majapahit-yang-merana/ http:///
Goa Suci yang berada di Dusun Suci, Desa Wagun, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban merupakan peninggalan kerajaan Majapahit. Sayang, peninggalan sejarah itu kini kondisinya semakin merana. Goa yang berstruktur batuan kapur ini bukan goa alam. Goa ini diyakini buatan manusia pada masa kejayaan kerajaan Majapahit. Hal itu diperkuat dengan pahatan angka tahun di salah satu dinding goa menggunakan angka jawa kono yang menyebut tahun 1026. Goa yang memiliki atap kerucut dengan lobang di ujungnya ini sangat cantik, ditambah dengan dinding goa yang berundak-undak membuat kagum siapa saja yang melihatnya. Goa yang ditemukan sejak tahun 70an berkedalaman 14 meter tersebut, kini telah dangkal akibat aktifitas penambangan batu kapur di sekelilingnya. Bahkan beberapa ruang goa juga telah hancur, sehingga mengancam keberadaan goa. Warga sekitar meyakini, goa Suci dibut untuk tempat berkumpul para pejabat tiggi kerajaan Majapahit. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya pahatan Arjuna (salah satu tokoh pewayangan) gambar perahu dan hewan berkaki empat yang tidak terlalu jelas jenisnya di salah satu dinding goa. Pahatan ini akan terlihat pada jam-jam tertentu, yakni saat matahari barada di ujung tombak, atau sekitar pukul 9 pagi. Ketika cahaya matahari masuk melalui ujung kerucut atap goa yang mengarah ke dinding bergambar pahatan itu semakin jelas. Keindahan goa akan semakin tersas saat jam 12 siang, dimana matahari tagak diatas kepala, suasana gelap goa menjadi terang seperti disinari lampu besar karena lobang goa di ujung kerucut tepat menyorot dasar goa yang memantul di dinding-dinding goa. “Paling bagus menikmati goa ini tepat pada pukul 12 siang seperti sekarang. Karena saat itu matahari tepat berada di atas kepala dan cahaya yang masuk melalui celah goa akan terpantul kedinding goa,” ujar Nur Aji (57) juru kunci Goa Suci. Menurut Mbah Nur, sebutan warga pada Nur Aji, goa ini sebenarnya sangat potensial bagi perkembangan pariwisata di Kabupaten Tuban. Sayang, sepertinya pemerintah belum berniat untuk menjadikan Goa Suci sebagai aset wisata Tuban. ” Selama saya menjadi juru kunci sampai sekarang hanya satu bupati yang perhatian dengan lokasi ini, padahal ini peninggalan yang semestinya diselamatkan dan dilestarikan,” kata Mbah Nur. Sambil menunjukan beberapa ruangan dalam goa Mbah Nur bercerita, goa itu dibangun kala Majapahit berkuasa. Pembangunannya menggunakan tatah (alat pahat berukuran kecil), karena di dinding goa terdapat goresan-goresan kecil bekas tatah yang masih sangat nampak jelas.” Belum tentu orang jaman sekarnag bisa seperti ini, paling mereka ya merusak bisanya,” kata Mbah Nur menyayangkan kerusakan goa akibat ulah tagan jahil manusia. Sebenarnya, kerusakan pada Goa Suci tidak hanya disebabkan oleh aktifitas penambang kapur, tangan jahil pengunjung goa juga banyak berkontribusi membuat keindahan goa ini berkurang. Beberapa dinding goa terdapat coretan dan gambar maupun nama pengunjung yang sengaja ditulis saat berkunjng ke Goa Suci tanpa tujuan yang jelas. Sebagai juru kunci sekaligus msyarakat sekitar Mbah Nur berharap, pemerintah turut campur dalam pelestarian situs Goa Suci, sebab jika tidak keberadaan goa tersebut akan semakin terancam dengan aktifitas penambangan kapur disekitarnya, apalagi hingga saat ini, tanah seluas kurang lebih setengah hektar itu masih menjadi hak milik warga setempat.” Saya berharap tanah ini dibebaskan pemerintah. Soalnya kalau yang punya lahan ini butuh uang bisa saja dijual dan kemudian ditambang, terus hilang situs ini,”
Selayar: Fantastic Dives, White Beaches and largest Dongson Kettledrum in the World Selayar: Fantastic Dives, White Beaches and largest Dongson Kettledrum in the World Bonetapalang, Selayar Dive Resort Photo courtesy : Ng Sebastian Selayar - Indonesia travelLocated at the most southern end of South Sulawesi, this quiet and now isolated island of Selayar, with its swathes of pristine white sand beaches and crystal clear tropical waters used to have an illustrious past. Ancient Javanese writings in the Nagara Kertagama mention that in the 14th century there was already a thriving kingdom on Selayar. This pre-Islamic kingdom seemed to have been Show More See on The Map To Stay Here are a number of beach resorts on the island: Selayar Island Resort Baloyia Beach on the Baloiya road at km 10 from Benteng website : www.selayarislandresort.com The resort offers beachfront bungalows and access to 50 world-class dive sites, sloops and walls Selayar Eco Resort Pinang Beach, Selayar Website : www.selayar-eco-resort.sitew.fr/English.B.htm Get There To get to Selayar you can travel overland from Makassar to the town of Tanjung Bira, and take the ferry to Selayar from here. The sea journey takes two hours. But when the seas are choppy, ferries donot sail. There are air conditioned buses from Makassar, leaving at 9.0 am and arriving at Benteng at 07.30 pm travelling via Bira, where the ferry carries passengers and bus to Salayar. &nbs Show More To Do This secluded tropical paradise offers a number of splendid, secluded white sandy beaches. The Baloiya Beach stretches some 3 km along the coast. From here you can see tarsiers and wild boars amongst the dense foliage of the forest. The Selayar Diver Resort offers cottages and facilities for divers. Other beaches are the Pinang Beach, some 80 minutes from Benteng or the Je’neiya Beach, some

HILANG ATAU SELAMATKAN

Wonderful Indonesia - Camp Leakey: Renowned Oranguta

Destinations in Indonesia


Home
 » Camp Leakey: Renowned Orangutan Research and Rehabilition Center
n Research and Rehabilition Center


dengan adanya pembalakan liar membuat mereka menjadi tak  tenang di alamnya....

save orang utan

Palms Private Villas & Spa | Zanzibar Spa Resort Packages (Location)

apa kamu masih  ingat @tempat ini?

Palms Private Villas & Spa | Zanzibar Spa Resort Packages (Location)

Sabtu, 16 November 2013

Wujudkan Impian Miliki Pusat Informasi Maritim Nasional

Mayor Maritim Tuti Ida Halida, S.T., M.ITM
Beberapa waktu lalu sempat kita mendengar gagasan dari salah seorang Pejabat TNI AL yaitu Kolonel Laut Judijanto Msi, MA mengenai Konsep Pembentukan NMIC (National Maritime Security Information Center) yang ditanggapi dengan antusias oleh kalangan pakar maritim dari negara tetangga yaitu Australia. Lalu timbullah beberapa pertanyaan dari Pejabat TNI AL tersebut tentang Kesiapan Penerapan Konsep NMIC itu sendiri di Indonesia. Apakah Indonesia sudah benar-benar siap untuk menerapkan konsep tersebut? Lalu pertanyaan selanjutnya yaitu : Siapa yang akan menjadi pengguna dari NMIC? Apa itu NMIC? Bilamana konsep itu benar-benar siap untuk dibentuk? Dimana konsep itu pantas diterapkan? Bagaimana konsep itu dapat diterapkan di Indonesia atau bagaimana NMIC dibentuk? NMIC adalah sungguh sebuah gagasan yang jika dapat diterapkan akan berdampak sangat dahsyat bagi berbagai pihak di dalam dan luar negeri. Rencana tersebut akan mengubah pandangan keamanan maritim khususnya di kawasan Asia Tenggara yang pada gilirannya akan membawa pengaruh langsung terhadap usaha untuk menciptakan stabilitas keamanan dan pada akhirnya akan berpengaruh juga terhadap globalisasi. Mengapa tidak? dimana saat ini berbagai pihak dari luar negeri menggambarkan kondisi aktual keamanan maritim di kawasan Asia Tenggara yang di dalamnya tentu saja sebagian besar termasuk perairan yurisdiksi Indonesia adalah kawasan yang masih mereka anggap rawan bahaya terorisme, piracy dan juga violence at sea, hal ini dapat kita terjemahkan bahwa masyarakat maritim dunia masih menganggap keamanan maritim di Asia Tenggara termasuk perairan Indonesia masih rawan kejahatan dan oleh sebab itu mereka sangat memerlukan informasi yang akurat dan aktual mengenai keamanan perairan di kawasan Asia Tenggara khususnya di daerah ALKI. Hal tersebut di atas akan terwujud jika Konsep Pembentukan NMIC dapat direalisasikan di Indonesia. Apa itu NMIC ? Istilah NMIC itu sendiri muncul di salah satu tulisan presentasi Kolonel Laut Judijanto, Msi, MA yang berjudul “Kerjasama Strategis Pengelolaan Keamanan Maritim di Indonesia” yang dipaparkan pada acara “Maritime Security Seminar” yang diselenggarakan pada tanggal 13 November 2012 oleh pihak TNI AL bekerja sama dengan pihak Angkatan Laut Singapura yang bertempat di hotel Shangri-La, Jakarta. Setelah itu kita juga sedikit tersentil dengan bahasan lebih lanjut yang disampaikan oleh Bapak Laksda TNI (Purn) Robert Mangindaan selaku Pemimpin Redaksi Forum Kajian Pertahanan dan Maritim “Quarterdeck” diulas dan diterbitkan pada Buletin “QuarterDeck” tersebut pada edisi Januari 2013, Vol.6, No.7 dengan judul NMIC: Sekedar Wacana atau Kebutuhan ? NMIC atau National Maritime Security Information Center atau diartikan juga sebagai Pusat Informasi Keamanan Maritim Kawasan Nasional sebenarnya pembentukannya sudah diidamkan sejak tahun 1994 oleh Kementerian Luar Negeri tetapi sayangnya hanya sebatas wacana yang belum direspon dengan serius oleh para pemangku kepentingan di Nusantara. Tetapi jika kita menilik negara lain seperti Singapura yang berhasil menempatkan pusat informasi keamanan maritim di kawasannya, keberhasilan mereka untuk mendirikan pusat Informasi Keamanan Maritim ternyata didukung penuh oleh Jepang dengan mengajukan pembentukan The Regional Cooperation Agreement on Combating Piracy and Armed Robbery (ReCAAP). Contoh lain yaitu di London yang telah membentuk International Maritime Bureau (IMB) yang memfokuskan untuk mengatasi masalah perompakan di laut. Hal ini diperkuat dengan resolusi IMO no. A 504 (XII) (5) dan (9) yang diadopsi pada tanggal 20 November 1981 yang intinya mendesak pemerintah dan semua pihak serta organisasi untuk bekerja sama dan bertukar informasi satu sama lain untuk memerangi penipuan maritim. Peran IMO dalam memerangi piracy and armed robbery diwujudkan dalam penyediaan layanan modul “piracy dan armed robbery” pada Global Integrated Shipping Information System (gisis.imo.org) yang bisa diakses oleh berbagai pihak dalam rangka meningkatkan akurasi informasi dan memungkinkan pengguna laut untuk menindaklanjutinya melalui pelaporan yang formatnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan instansi. Sementara peran dikawasan Asia Tenggara di tengarai dengan dibentuknya Information Fusion Center (IFC) di Changi Naval Base, Singapura yang telah berhasil menyelesaikan insiden yang terjadi pada berbagai ancaman keamanan maritim seperti terorisme di kawasan maritim. Bagaimana halnya dengan di Indonesia ? Di Indonesia, Bakorkamla sebenarnya telah berperan aktif dalam penyediaan layanan Information Center terkait masalah keamanan maritim dengan memiliki call center Bakorkamla (62)(21) 500500 dan hal ini telah dilaporkan pada “Co-Chairs Summary Report” dalam pertemuan ketiga “ARF Inter-Sessional Meeting on Maritime Security” di Tokyo, Jepang yang telah diselenggarakan pada tanggal 14-15 Februari 2011. Fungsi Call Center Bakorkamla jika ditilik kembali sangatlah krusial dimana sebagai penyedia layanan Information Center terkait masalah keamanan laut kepada para pengguna laut. Informasi yang biasanya diberikan yaitu tinggi gelombang dan daerah penangkapan ikan yang dihasilkan dari Ground Station (GS) yang dimiliki Bakorkamla. Tentu saja informasi ini sangat membantu bagi kapal-kapal yang akan melewati perairan Indonesia terutama jalur ALKI I, ALKI II dan ALKI III. NMIC sekedar wacanakah ? Lalu benarkah NMIC di Indonesia hanya sekedar wacana? Jika kita beroptimis sedikit untuk mengubah mind set kita ke hal yang lebih positif bahwa jika NMIC itu dapat terwujud maka dampak positif yang maha dahsyat akan kita terima sebagai rewardnya apalagi jika Bakorkamla yang mengambil peran tersebut. Sebelum menjawabnya ada baiknya kita petakan kekuatan yang Bakorkamla miliki untuk mendukung terwujudnya NMIC. Untuk menjawab pertanyaan di atas, menurut Bapak Robert Pangindaan sebaiknya dibenak kita sudah terbesit beberapa pertanyaan kunci yaitu: Apa tujuan dibentuknya NMIC, siapa penggunanya dan bagaimana cara membentuknya ? Apabila bercermin pada IMB yaitu sebagai sumber informasi mengenai ancaman terhadap keamanan pelayaran dan malpraktik dalam bisnis pelayaran. Untuk NMIC sendiri kita dapat membagi tujuannya apakah sebagai pusat penampung informasi atau sebagai pusat sumber informasi. Apabila kita mengklaim bahwa kemampuan NMIC adalah sebagai pusat sumber informasi maritim nasional maka instansi tersebut harus mampu berurusan dengan informasi dari semua aspek maritim yang berada dalam wilayah yurisdiksi nasional termasuk memberikan informasi tentang ancaman terhadap keamanan pelayaran, kejahatan dalam dunia pelayaran, malpraktik dalam bisnis pelayaran serta mampu menyediakan informasi mengenai kondisi manajemen dari suatu lembaga atau institusi yang good-governance nya masih sangat buruk . Analisis Kemampuan yang dimiliki Bakorkamla dalam mendukung terbentuknya NMIC Bakorkamla sebagai Badan Koordinasi jika diberi mandat/kepercayaan sebagai badan pengumpul informasi baik dalam birokat maupun instansi swasta serta masyarakat luas sudah mampu menerima mandat tersebut mengingat badan ini telah memiliki fasilitas yang telah dibangun untuk itu serta memiliki SDM yang kompeten di bidang tersebut. Hanya sedikit perlu adanya pembenahan di beberapa bagian dalam rangka memperkokoh perannya sebagai motor penggagas NMIC. Seperti merefer pada negara-negara maju bahwa mereka juga sebelumnya melakukan pembenahan sebelum mereka benar-benar dapat mewujudkan lahirnya NMIC dengan mewujudkan the 2012 National Strategy for Information Sharing and Safeguarding. Adapun sektor-sektor yang perlu dibenahi tersebut adalah : 1. Mengembangkan wadah secara efektif; Dalam hal ini jika mandat tersebut benar-benar diberikan kepada Bakorkamla yang notabenenya sebagai wadah yang tepat dalam pengkoordinasian dengan para pemangku kepentingan lainnya, maka kita dapat optimis NMIC akan terwujud dalam kurun waktu yang tidak lama lagi. Hal ini juga diperkuat dengan domain yang sudah sesuai dengan domain yang dibutuhkan NMIC dengan yang telah dimiliki Bakorkamla yaitu domain kemaritiman bukan domain kelautan atau domain lainnya. Karena domain keamanan maritim inilah yang sesuai dengan standard IMO yang senantiasa mengedepankan aspek keamanan pelayaran, keselamatan navigasi serta marine environment protection yang mana semua ini sudah dilaksanakan oleh Bakorkamla. 2. Mengintegrasikan prosesnya; Usaha pengintegrasian proses sedang dan telah dilakukan Bakorkamla dengan berhasilnya mengintegrasikan beberapa AIS dan Long Range Camera yang dimiliki didaerah/RCC Bakorkamla dengan Puskodal yang berada di Pusat. 3. Kesiapan Dukungan Teknologi untuk pengamanan informasi serta kemampuan mendiseminasikan informasi tersebut. Dalam hal ini Bakorkamla telah mengembangkan peralatan pantauan terhadap kegiatan kemaritiman nasional dengan berkoordinasi dengan beberapa stakeholder yang bertanggung jawab terhadap keamanan, keselamatan dan penegakan hukum di wilayah perairan Indonesia. Adapun kemampuan yang dimiliki Bakorkamla antara lain : a. Bakorkamla telah memiliki MRCC dan RCC yang tersebar di tiga wilayah perairan di Indonesia antara lain: 1) Di wilayah ALKI 1 terdapat MRCC Batam, RCC Aceh, RCC Tg. Balai Karimun, RCC Natuna dan RCC Sambas; 2) ALKI 2 terdapat MRCC Menado, RCC Kema, RCC Tarakan dan RCC Bali; 3) ALKI 3 terdapat MRCC Ambon, RCC Tual, RCC Kupang, RCC Jayapura dan RCC Merauke. b. Peralatan MRCC dan RCC tersebut di atas merupakan fasilitas untuk memperoleh data pemantauan terhadap lalu lintas pelayaran dan deteksi perairan di masing-masing wilayah ALKI. Diantara Peralatan yang ada adalah: 1) ENC (Electronic Navigation Chart) merupakan sebuah basis data resmi yang dibuat oleh hidrografi nasional untuk digunakan dengan Electronic Chart Tampilan dan Sistem Informasi (ECDIS). ENC memuat semua informasi peta yang diperlukan untuk keselamatan pelayaran dan melengkapi informasi dari peta kertas yang diperlukan untuk keselamatan navigasi perkapalan yang melintasi perairan Indonesia; 2) AIS database yang berfungsi sebagai data pemantau kapal dengan ukuran 300 GT ke atas. Data yang diperoleh dari AIS adalah nomor IMO, MMSI, Call Sign, Posisi, Kecepatan, Negara tempat kapal tersebut terdaftar, Asal dan tujuan, muatan dan type kapal. AIS di Bakorkamla menggunakan prinsip Integrated Maritime Surveillance System yang diintegrasikan dengan Radar Maritim dan Long Range Camera. Tipe AIS yang dimiliki adalah AIS Base Station. AIS Transponder yang dimiliki oleh Kapal mengirimkan data secara otomatis dan akan ditangkap oleh Radio receiver VHF FM Marine Band; 3) RADAR merupakan alat pemantau obyek yang berada di permukaan air, data tersebut digunakan untuk deteksi kapal-kapal kecil dan kapal di atas 300 GT yang tidak menyalakan AIS; 4) Long Range Camera digunakan untuk melakukan pengamatan visual terhadap kapal dan kejadian di wilayah laut sekitar MRCC dan RCC yang terdeteksi oleh AIS maupun RADAR sehingga keakuratan pengamatan lebih terjamin. Long Range Camera yang ada di Bakorkamla mampu melakukan perbesaran sampai 5-10 Km; 5) GMDSS merupakan suatu sistem komunikasi untuk mendukung pemantauan terhadap keselamatan kapal yang melintas di wilayah perairan Indonesia yang terintegrasi dengan satelit dan komunikasi radio terresterial. 6) Puskodal Bakorkamla yang berada di Jakarta sebagai kantor yang mengkoordinasikan data dari masing-masing MRCC dan RCC, memiliki beberapa data yang dapat di akses oleh Masyarakat maupun Stakeholder sebagai berikut: Peringatan dini. Puskodal Bakorkamla bertugas memberikan informasi peringatan dini terhadap kapal yang akan bergerak menuju daerah dengan gelombang tinggi, peringatan dini tersebut dikirimkan kepada stakeholder yang mempunyai kewenangan dan kemampuan untuk menghubungi kapal terindikasi tersebut. Data pelanggaran keamanan dan penegakan hukum. Data yang berisi informasi yang berkaitan tentang pelanggaran terhadap keamanan dan penegakkan hukum yang didapatkan dari dalam maupun luar negeri dengan informasi tersebut dibuatkan rekapitulasi oleh Puskodal mingguan. Data AIS harian MRCC dan RCC tentang kapal asing. Kapal yang melintas di wilayah ALKI dan terpantau oleh masing-masing MRCC dan RCC dikirimkan ke Puskodal, data tersebut dikelola oleh Puskodal dilanjutkan dengan melakukan filtering terhadap kapal asing dan dibuat data data tersebut dikirimkan kepada stakeholder untuk saat ini masih dikirimkan ke TNI AL dan POLAIR. Integrasi dan long range kamera. Integrasi adalah suatu penggabungan beberapa peralatan dalam hal ini peralatan pemantauan AIS dan Long Range Kamera di dalam satu peralatan yang terpusat. Dengan Integrasi ini Puskodal Bakorkamla dapat pula melakukan pemantauan di daerah langsung dengan menggunakan peralatan integrasi tersebut, sehingga akan memudahkan koordinasi jika terjadi deteksi maupun pelanggaran di laut. Indokamla. Indokamla merupakan data yang diperuntukkan kepada msyarakat luas yang berisi data-data kapal yang terpantau oleh MRCC dan RCC Bakorkamla. Indokamla merupakan public service selain berisi data kapal, Indokamla juga berisi perkiraan tinggi gelombang dan cuaca perairan di wilayah Indonesia. Dengan peralatan pemantauan dan data yang dimiliki masing-masing MRCC, RCC dan Puskodal, Bakorkamla dapat dan mampu melayani informasi tentang seluruh wilayah perairan di sepanjang wilayah ALKI di Indonesia. Bakorkamla dapat dijadikan sumber informasi kemaritiman Indonesia terlebih lagi Bakorkamla sebagai wadah yang sangat sesuai dengan NMIC ini yaitu Bakorkamla sudah memiliki domain kemaritiman nasional bukan domain kelautan, khususnya keamanan maritim yang telah sesuai dengan standard IMO yaitu mengedepankan aspek keamanan pelayaran, keselamatan navigasi serta marine environment protection. Hanya saja perlu komitmen yang kuat dari berbagai pihak untuk mewujudkannya karena dalam prakteknya hal ini akan sangat sulit terwujud manakala semua pihak masih mengedepankan kepentingan sektoralnya dan belum sepenuhnya memberikan mandat tersebut kepada Bakorkamla. Perlu usaha yang intensif dan pemikiran yang benar-benar dicurahkan oleh semua pemangku kepentingan untuk kebutuhan berskala nasional ini dengan tujuan akhir yang tak lain adalah untuk kepentingan masyarakat luas. Mari satukan pola pikir/persepsi kita bahwa NMIC adalah suatu kebutuhan yang harus segera dipenuhi yang jika ditelaah lagi cakupan informasi yang kita butuhkan saat ini akan mengandung enam spektrum kepentingan yang tentu saja semuanya itu untuk mendukung kebijakan nasional. Enam spektrum kepentingan tersebut menurut US National Strategy for Maritime Security adalah sebagai berikut : Kebijakan Luar Negeri, Pertahanan, Keamanan dan Perdagangan; Kedaulatan, Integritas Nasional dan Politik Independen; Keamanan terhadap tindak kriminal di laut; Keamanan terhadap Sumberdaya; Keamanan terhadap Lingkungan; Keamanan terhadap pengguna laut dan nelayan. Dimana jika kita dapat mewujudkannya maka dampaknya sangatlah dahsyat di mata dunia serta dapat mengubah pandangan dunia terhadap keamanan maritim khususnya di kawasan Asia Tenggara yang selama ini dipandang sebagai kawasan rawan tindak kriminal yang pada gilirannya akan membawa pengaruh langsung terhadap usaha untuk menciptakan stabilitas keamanan dan pada akhirnya akan berpengaruh juga terhadap globalisasi. Kesimpulan Dengan SDM, peralatan pemantauan dan data yang dimiliki masing-masing MRCC, RCC dan Puskodal, Bakorkamla dapat mampu melayani informasi tentang seluruh wilayah perairan di sepanjang wilayah ALKI di Indonesia. Bakorkamla dapat dijadikan sumber informasi kemaritiman Indonesia atau sudah mampu mengemban fungsi NMIC yang juga sangat sesuai karena memiliki domain kemaritiman nasional bukan domain kelautan, khususnya keamanan maritim yang telah sesuai dengan standard IMO yang mengedepankan aspek keamanan pelayaran, keselamatan navigasi serta marine environment protection. Saran Komitmen yang kuat dari berbagai pihak untuk mewujudkan Bakorkamla yang berfungsi sebagai NMIC sangat diperlukan karena dalam prakteknya hal ini akan sangat sulit terwujud manakala semua pihak masih mengedepankan kepentingan sektoralnya dan belum sepenuhnya memberikan mandat tersebut kepada Bakorkamla. Perlu usaha yang intensif dan pemikiran yang benar-benar dicurahkan oleh semua pemangku kepentingan untuk kebutuhan berskala nasional ini dengan tujuan akhir yang tak lain adalah untuk kepentingan masyarakat luas. Dengan terlebih dahulu menyatukan persepsi bahwa dengan domain yang dimiliki yang sudah sesuai dengan yang dipersyaratkan IMO yaitu domain kemaritiman yang sudah sesuai dengan yang dimiliki Bakorkamla, SDM yang sudah memadai serta peralatan yang sudah menunjang semua hal tersebut maka Bakorkamla sudah siap sebagai NMIC di Indonesia yang harus didukung sepenuhnya oleh semua pihak. Tentu saja perlu adanya persiapan-persiapan disertai pembenahan dalam rangka persiapan pembentukan NMIC itu sendiri oleh Bakorkamla seperti pengembangan wadah yang efektif, pengintegrasian proses serta Persiapan dukungan teknologi terkait pengamanan dan diseminasi informasi.

Masihkah Indonesia Disebut Sebagai Negara Maritim? | APMI

Masihkah Indonesia Disebut Sebagai Negara Maritim? | APMI https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibTPbI0B7jKkga3t_uDZdJNwCiGA7wlBEeexwuPFPbWjv5ywlM-6_bRhqkLnAfFoXqPrPAeUS5Ds7ZM-nuFn_1UqSEqEyl9SkmfkiHle4l52-SGFPehlNg1OfqeX6j6qEZAvtltZWgiVE/s320/kapal.jpg

Tongak maritim Indonesia

Sejarah panjang bangsa maritim di indonesia tentunya tidak bisa dilepaskan dari peran kerajaan-kerajaan yang mampu menguasai maritim di indonesia. Jika kita menengok kebelakang Sriwijaya yang mampu menjadikan maritim sebagai sebuah kekuatan utama dengan mempunyai armada yang kuat serta menguasai jalur perdangan. Kemudia disamping itu kerajaan mataram dan beberapa kerajaan yang lainnya mampu menjadikan maritim sebagai sebuah kekuatan pada masanya. Ditambah dengan Kerajaan Singosari yang memiliki armada kapal dangang yang mampu mengadakan hubungan bilateral dengan kerajaan-kerajaan lintas laut. Beberapa paparan tadi memperlihatkan bagaimana kekuatan laut mampu menjadi tulang punggung sebuah kekuatan kerajaan di nusantara. Potensi laut indonesia yang sangat besar dengan berbagai paparan dari berbagai segi mulai dari arkeologi dan sejarah telah jelas nampaknya menerangkan itu semua, namun sayang sampai saat ini maritim masih belum mendapatkan prioritas dalam pembangunannya. Jika kita mampu memanfaatkan maritim sebenarnya indonesia mampu menjadi negara besar karena indonesia memiliki semuanya. Sebuah peluang sekaligus bencana telah tampak di depan bangsa indonesia saat indonesia menyetujui Asean Community 2015. Hal ini menjadi sebuah pertanyaan besar siapa yang akan menikmati kekayaan sumberdaya maritim indonesia jika hal tersebut terjadi. Sampai saat ini mau tidak mau indonesia di hadapkan pada situasi sulit sebagai bangsa dan juga sebagai sebuah negara yang berpartisipasi dalam ekonomi global. Nampaknya berbagai upaya terus dilakukan namun sayangnya sampai saat ini akar penyelesaian permasalahan belum mampu di selesaikan. Pembangunan indonesia yang tidak tertata seolah menjadikan indonesia sebagai negara yang carut marut tanpa sebuah grand strategi dalam pembangunannya. Negara indonesia terlalu banyak kepentingan sehingga banyak di gadaikan untuk masuk kekantong masing-masing pejabat negara. Srategi pengembangan maritim selama ini menjadi salah satu korban yang amat nyata. Jika kita mau menguraikan bagaimana evaluasi pengadaan seribu kapal nelayan sampai saat ini entah bagaimana. Belum lagi berbagai kebijakkan pemerintah di tataran regional yang melakukan reklamasi terhadap kepulauan di bilangan jakarta. Data dari mentri perdangangan yang cukup mencengangkan ketika saat ini peran perdangan laut dan perikanan tidak lebih dari 5-10 persen. Padahal potensi laut indonesia sangat besar sekitar 1300 triliun komoditi perdangan yang dikirim lewat laut dengan mempertimbangkan selat malaka dan selat sunda, rasa pantas jika indonesia memprioritaskan maritim menjadi ujung tombak perekonomian. Ironi namun itulah bangsa indonesia yang memang seolah telah mati hai nuraninya untuk mengembangkan negaranya. Sehingga sampai saat ini indonesia masih terlilit dengan hutang. Dalam berbagai permasalahan yang terjadi dalam pengembangan dunia maritim badai konflik pun datang, ketika pembangunan mega proyek Jembatan selat Sunda (JSS) menjadi sebuah alasan untuk meningkatkan percepatan di pulau jawa. Hal ini menjadi sebuah pertimbangan yang tidak masuk akal, karena dengan pembangunan jembatan tersebut akan meningkatkan disparitas pembangunan ekonomi indonesia makin jauh. Artinya pembangunan kan semakin cepat di pulau jawa dengan adanya jemabatan tersebut namun, bagaimana dengan kepulauan lain. Hal tersebut juga menghilangkan kultur maritim yang ada di indonesia. Seharusnya memikirkan bagaimana indonesia mampu memiliki pelabuhan internasional yang besar serta mampu menjadi pelabuhan yang berperan besar bagi perdangan di asia seperti singapura. Nampaknya ini menjadi sebuah konflik besar untuk indonesia apabila mega proyek tersebut dapat di jalankan. Melihat permasalahan maritim indonesia yang sangat kompleks tentunya sebagai insan maritim saatnya menatap indonesia kedepan. Menatap sebuah harapan besar tentang bagaimana pengembangan maritim di indonesia. Momentum 2014 sudah saatnya dengan konsep “blue Ekonomi Indonesia mampu berbicara di tataran dunia beberapa tahun mendatang tentang maritim. Harapan ini menjadi sebuah angin segar bagi pengembangan maritim di indonesia. Maritim sudah saatnya di jadikan sebuah prioritas, bukan hanya di jadikan sebagai sebuah formalitas dalam penerapan berbagai kebijakkannya. Harapannya kebijakkan yang selama ini menjadi isapan jempol semata, dapat menjadi sebuah produk kebijakan yang taktis dan aplikatif dalam penerapannya. Potensi maritim yang ada di Indonesia harapannya mampu dimanfaatkan dengan maksimal, bukan hanya menerima pendataan potensi maritim dari luar namun, indonesia memang mencari potensi laut tersebut sendiri. Genap 85 tahun sumpah pemuda di gulirkan untuk mempersatukan indonesia. Pemuda menjadi jawaban sebuah permasalahan bangsa untuk mampu menjadi indonesia yang utuh satu tanpa terpecah belah. Pemuda menjadi sebuah tongak sejarah kebangkitan Indonesia dalam beberapa peristiwa. Harapannya ini pun akan terjadi pada maritim indonesia. Pemuda-pemuda yang saat ini berhimpun untuk memajukan maritim indonesia mampu bangkit dan mengembalikan kejayaan maritim Indonesia. Karya anak bangsa yang bertebaran di berbagai universitas di indonesia maupun universitas luar negri harapannya mampu menjadi sebuah solusi untuk mengembangkan kemaritiman di indonesia. Pemuda mempunyai andil dalam kebangkitan indonesia, harapan besar indonesia mampu menjadi negara maritim yang seutuhnya yang kokoh dan mampu bersaing dengan negara-negara asing. Sudah saatnya Indonesia berbicara tentang perannya di dunia bukan hanya berkutat dengan permasalahan yang akan semakin menambah konflik yang ada di Indonesia. Disampaikan dalam Seminar nasional dan perayaan ulang tahun IMI (Institute maritime Indonesia) oleh bpk Emil Salim bahwa membanguin generasi muda maritim saat ini seharusnya menjadi prioritas utama dalam pengembangan bangsa maritim kedepan. Konsepsi triple helix yang mengabungkan ketiga unsur kunci yakni pemerintahan, swasta dan perguruan tinggi menajdi sebuah tongak kebangkitan bangsa indonesia. Saat ini eranya untuk para pemuda menelurkan karya-karya inspiratif untuk mendorong kemajuan perkembangan maritim di Indonesia. Pemuda maritim harapannya mampu berbicara tentang sebuah aksi dalam sebuah karya untuk pengembangan dan pembangunan maritim di indonesia. Semangat pemuda semangat maritim Indonesia. Salam Cinta untuk Maritim Indonesia.

Zurich in Indonesia

Zurich in Indonesia: Zzz... Jutaan orang di seluruh dunia tidur nyenyak karena kebutuhan asuransinya ditangani oleh yang terbaik. Anda?

Belajar Bencana di Sekolah YouTube 360p

Typhoon Haiyan diary

As emergency relief begins to reach communities in the Philippines devastated by Typhoon Haiyan, a clearer picture emerges of just how much more is needed. UNICEF Image © UNICEF Philippines/2013/Maitem Residents survey the damage caused by Typhoon Haiyan in the city of Tacloban, Leyte, Philippines. MANILA, Philippines, 11 November 2013 – It’s day four since Typhoon Haiyan – known here as Yolanda – hit the Philippines, and the good news is that aid is getting through. I’m proud to say that UNICEF’s water and sanitation supplies are now in Tacloban, where they will help prevent the much-feared outbreaks of typhus and cholera. The bad news is that not enough aid is getting through. Despite the tireless efforts of the Government and the army and all my colleagues in the aid community, we are still not reaching everyone in dire need. Under the emergency coordination system, water, sanitation and hygiene is one of the aid categories for which UNICEF is the lead agency, along with education and nutrition; other agencies lead on food, medicine, emergency shelter and other areas of assistance. Logistics have been the key to the first days. The damage to the local infrastructure is enormous. The typhoon has blocked or destroyed roads, bridges and airports, and the authorities have been working feverishly to open the routes needed to get supplies where they need to go. UNICEF Image © UNICEF Philippines/2013/Maitem A man carries his children in Tacloban in the aftermath of Typhoon Haiyan. UNICEF has mobilized from available local supplies therapeutic food for children, health kits, and water and hygiene kits to support up to 3,000 families in affected areas. The level of devastation, the continued bad weather and the challenging terrain of the central Philippines have made this a tough ask. Slowly they have succeeded. But by the time routes were opened and aid groups could get water, food, shelter and medicines in, people were already hungry and desperate. Unaware of everything being done to reach them – no surprise, given that Haiyan demolished communications networks – people felt deserted and hopeless. So as soon as roads were open, everyone who was able to gathered their children and took to the roads out of the city, or headed for the airport in hopes of getting a flight out. Who can blame them? Unfortunately, after the routes were painstakingly cleared of obstacles to allow desperately needed aid to get in, they were suddenly blocked again with desperate, hungry and tired people trying to get out. For all the difficulties, aid is making its way to where it needs to go – in trickles, but trickles can become floods. ©Philippines/2013/Maitem A view of destruction caused by Typhoon Haiyan in the city of Tacloban. We are also slowly improving our understanding of what is needed, and increasing our capacity to provide it. UNICEF teams are spreading throughout the affected parts of the country, assessing children’s needs and starting to meet them. Colleagues are in all the eastern areas working hard. It’s not difficult to understand why people who have lost everything else are now losing hope. But from the vantage point of where I am at present, I am starting to see a little glimmer of light. Just a glimmer. Until every child is safe, that’s not enough. And we are working around the clock with that one simple purpose. Updated: 17
November 2013

ayo kita kenali bencana di sektar kta...!!

Company Profile | About Chevron | Chevron

Company Profile | About Chevron | Chevron

sekolah pintar bencana

SIMULASI Kebakaran Hutan dan Lahan

Sekolah Siaga Bencana (SSB)

Dikarenakan sopir mengantuk, Tabrak Pohon, Kernet Truck Tronton Tewas

http://kabartuban.com/tabrak-pohon-kernet-truck-tronton-tewas/5774/

Jumat, 15 November 2013

Wonderful Indonesia - Activities & Things to do in Indonesia - Diving and Snorkeling

Wonderful Indonesia - Activities & Things to do in Indonesia - Diving and Snorkeling

Wonderful Indonesia - Selayar: Fantastic Dives, White Beaches and largest Dongson Kettledrum in the World

Wonderful Indonesia - Selayar: Fantastic Dives, White Beaches and largest Dongson Kettledrum in the World

Rabu, 13 November 2013

Rescue (Audisi Grand Final Radio Show Movement)

http://www.avans.com/v/t5pVyGhjAbc?version=3&autohide=1&autoplay=1&autohide=1&feature=share&showinfo=1&attribution_tag=O2ONlwDdgTFM_VK8HH12yg

Sekolah Siaga Bencana (SSB)

http://www.youtube.com/v/ApTjiJ3tw1c?autohide=1&version=3&autoplay=1&showinfo=1&attribution_tag=DA3V097SuIqCF1RI92JjFw&autohide=1&feature=share

Selasa, 12 November 2013

Dokumenter Banjir Bandang

http://www.youTube.com/v/U8LznaVknZg?version=3&autohide=1&autoplay=1&autohide=1&feature=share&showinfo=1&attribution_tag=94tCEExyZsmE4f9U2SJl5g

Jembatan "BONCONG" Bancar Ambrol di Hari Jadi Tuba...

Jembatan "BONCONG" Bancar Ambrol di Hari Jadi Tuba...: Jembatan "BONCONG" Bancar Ambrol di Hari Jadi Tuban Ke 720 Thn, Jalur Pantura Tuban Dialihkan...