Senin, 18 November 2013
Goa Suci Peninggalan Majapahit yang Merana
http://google.com/+ahcmadaffandiavans/goa-suci-peninggalan-majapahit-yang-merana/
http:///
Goa Suci yang berada di Dusun Suci, Desa Wagun, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban merupakan peninggalan kerajaan Majapahit. Sayang, peninggalan sejarah itu kini kondisinya semakin merana.
Goa yang berstruktur batuan kapur ini bukan goa alam. Goa ini diyakini buatan manusia pada masa kejayaan kerajaan Majapahit. Hal itu diperkuat dengan pahatan angka tahun di salah satu dinding goa menggunakan angka jawa kono yang menyebut tahun 1026.
Goa yang memiliki atap kerucut dengan lobang di ujungnya ini sangat cantik, ditambah dengan dinding goa yang berundak-undak membuat kagum siapa saja yang melihatnya. Goa yang ditemukan sejak tahun 70an berkedalaman 14 meter tersebut, kini telah dangkal akibat aktifitas penambangan batu kapur di sekelilingnya. Bahkan beberapa ruang goa juga telah hancur, sehingga mengancam keberadaan goa.
Warga sekitar meyakini, goa Suci dibut untuk tempat berkumpul para pejabat tiggi kerajaan Majapahit. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya pahatan Arjuna (salah satu tokoh pewayangan) gambar perahu dan hewan berkaki empat yang tidak terlalu jelas jenisnya di salah satu dinding goa. Pahatan ini akan terlihat pada jam-jam tertentu, yakni saat matahari barada di ujung tombak, atau sekitar pukul 9 pagi. Ketika cahaya matahari masuk melalui ujung kerucut atap goa yang mengarah ke dinding bergambar pahatan itu semakin jelas.
Keindahan goa akan semakin tersas saat jam 12 siang, dimana matahari tagak diatas kepala, suasana gelap goa menjadi terang seperti disinari lampu besar karena lobang goa di ujung kerucut tepat menyorot dasar goa yang memantul di dinding-dinding goa.
“Paling bagus menikmati goa ini tepat pada pukul 12 siang seperti sekarang. Karena saat itu matahari tepat berada di atas kepala dan cahaya yang masuk melalui celah goa akan terpantul kedinding goa,” ujar Nur Aji (57) juru kunci Goa Suci.
Menurut Mbah Nur, sebutan warga pada Nur Aji, goa ini sebenarnya sangat potensial bagi perkembangan pariwisata di Kabupaten Tuban. Sayang, sepertinya pemerintah belum berniat untuk menjadikan Goa Suci sebagai aset wisata Tuban. ” Selama saya menjadi juru kunci sampai sekarang hanya satu bupati yang perhatian dengan lokasi ini, padahal ini peninggalan yang semestinya diselamatkan dan dilestarikan,” kata Mbah Nur.
Sambil menunjukan beberapa ruangan dalam goa Mbah Nur bercerita, goa itu dibangun kala Majapahit berkuasa. Pembangunannya menggunakan tatah (alat pahat berukuran kecil), karena di dinding goa terdapat goresan-goresan kecil bekas tatah yang masih sangat nampak jelas.” Belum tentu orang jaman sekarnag bisa seperti ini, paling mereka ya merusak bisanya,” kata Mbah Nur menyayangkan kerusakan goa akibat ulah tagan jahil manusia.
Sebenarnya, kerusakan pada Goa Suci tidak hanya disebabkan oleh aktifitas penambang kapur, tangan jahil pengunjung goa juga banyak berkontribusi membuat keindahan goa ini berkurang. Beberapa dinding goa terdapat coretan dan gambar maupun nama pengunjung yang sengaja ditulis saat berkunjng ke Goa Suci tanpa tujuan yang jelas.
Sebagai juru kunci sekaligus msyarakat sekitar Mbah Nur berharap, pemerintah turut campur dalam pelestarian situs Goa Suci, sebab jika tidak keberadaan goa tersebut akan semakin terancam dengan aktifitas penambangan kapur disekitarnya, apalagi hingga saat ini, tanah seluas kurang lebih setengah hektar itu masih menjadi hak milik warga setempat.” Saya berharap tanah ini dibebaskan pemerintah. Soalnya kalau yang punya lahan ini butuh uang bisa saja dijual dan kemudian ditambang, terus hilang situs ini,”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar